Kilas profil dosen IPA..


Kilas profil dosen IPA..
Tau..gak..tau… gak..
Dosen kita yang namanya ‘’Drs. EKO WIDODO’’, Biliau kelahiran 12 desember 1958 asli banyumas low … anak pertama dari 6 bersaudara !!! Alamatnya sekarang di jln. Masjid no 2 rt 05 rw 07 cibuan waraklor sumber adi, mlati sleman Yogyakarta. Pak EKo ini orang yang amat suka dengan kegiatan organisasi baik formal maupun non formal, mulai dari SD di SD N2 kradenan beliua sudah ikut pramuka, SMP nya di sumpioh menjadi waka osis low. Sama kayak aku dung hee. SMA nya di N1 perwokerto. Nah mulai SMA beliu giat-giatnya ikut organisasi, mulai dari ketua bidang (kabid) kesenian dalam osis, dan ketua pelajar sumpioh yang ada di purwokerto. Wah hebat ya. Setelah itu masuk perguruan tinggi IKIP Jogja jurusan fisika mulai tahun79-86, dan S2 PTK DIKTAT thn 2000-sekarang. Wah ternyata belum lulus ya… Tapi alasannya si ampang kata beliua “wong saya orang sibuk” udah gitu aj tutur baliau sambil bercanda he,hee.. Kegiatan selama kuliah yang beliau ikuti sangatlah banyak, mulai dari KSR PMI sebagai kabid humas, ketua ensambel music uny, ketua marcing band, pembina marcing band CDB UNY dari tahun 1987- 2007, wah lama banget ya???? dan banyak ketua deh.,,,,. Di luar kampus beliau juga sangat aktif dala kegiatan misaknya Ketua komisi juri PEMPROV PDBI (persatuan dram band indonesia) DIY, ketua komisi diklat pengurus besar di Jakarta dan banyak lagi deh pokoknya.
Beliau ini memang terkenal orang yang disiplin dalam segala hal, tapi sapa sangka makanan kesukaannya adalah tempe goreng dan sejanis makanan javanis gitu.!! Bapak 1istri dan 2 anak ini sangat gemar organisasi bahkan sampai sekarang. Meskipun usianya yang sudah tidak muda lagi beliau masih eksis dan bersemangat dalam kegiatan yakni, Pembina hancala mulai 19999, Anggota pengawas pembangunan daerah perkotaaan di kecamatan dari tahun 2007. Waduhhhh… sibuk banget yaa… pantes mau janjian aja susah banget.!!!
Di prodi IPA beliau menjabat sebagai salah satu koordinator lab bidang pendidikan. Sebagai seorang dosen beliau pernah menjadi dosen teladan no2 low, beliau juga sering membawa marcing band UNY meraih berbagai gelar. Awalnya beliau dosen prodi fisika tapi karena diminta oleh kaprodi IPA pak Zuhdan, dan akhinya ditugaskan oleh prodi fisika beliau sekarang mengajar di prodi IPA dan juda fisika. Di prodi IPA beliau mengajar Fis das, Ilmu kebumian, dan IPA 2, sedang di fisika beliau mengajar IPBA dan Termodinamika, serta sebagai pambimbing KKN mahasiswa.
Selain aktivis pak Eko ini juga relegius lowww… Makanya biliau menjadi ketua takmir masjid AL Hidayah waraklor mulai tahun 2000-sekarang.. wah keren ya,, apa apa jadi ketua. Pak Eko ini kenapa bias menjadi aktivis karena mengikuti kursus kepimpinan, yakni kursus LKMM (latih ketrampilan menejemen mahasisiwa)di uny, PPLKMM(penatar pelatih ketrampilan menejemen mahasisiwa) di UNDIP, OPPEK (orientasi pengembangan dan pembinaan kemahasisiwaan) di UGM dan PPOPPEK di Jakarta. Selain itu beliau mempunyai motto dalam hidupnya yakni “HIDUP HARUS SENANG DAN PENUH TANTANGAN” begitu tutur beliau. wah seru juga tuhhh…
Di akhir perbincangan kami, beliaupun member saran kepada HIMA yakni “ikutilah suatu organisasi dengan serius dan konsisten sehingga menghasilkan hal yang bermanfaat” dan juga saran untuk mahasiswa IPA agar “hidup dengan disiplin”. Demikian tutur Beliau sembari menutup perbincangan.
BY: faysal

UU BHP


Undang-undang Badan Hukum Pendidikan atau disingkat dengan BHP telah disahkan oleh DPR-RI beberapa bulan yang lalu. Ramailah kemudian para mahasiswa berdemo menentang Undang-undang ini. Sebenarnya, bukan baru sekarang mahasiswa menentangnya, karena sejak masih menjadi rancangan undang-undang pun para mahasiswa sudah turun ke jalan untuk menolaknya. Yang dipersoalkan para mahasiswa prinsipnya satu hal, yakni dikhawatirkan beralihnya pandangan publik dari anggapan bahwa pendidikan adalah upaya yang mulia mencerdaskan bangsa (dan diharap sepenuhnya merupakan tanggung jawab negara), menjadi anggapan bahwa pendidikan adalah komoditas yang patut diperjualbelikan. Dengan anggapan itu, lembaga pendidikan akan seenaknya menentukan biaya sekolah dan membebankannya secara naif kepada para mahasiswa lewat orangtua mereka. Menurut RUU BHP, “BHP adalah badan hukum bagi penyelenggaraan dan/atau satuan pendidikan formal, yang berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik, berprinsip nirlaba, dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan”. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dari awal Rancangan Undang-Undang (RUU) Badan Hukum Pendidikan (BHP) dibuat sampai disahkan Dewan Perwakilan Rakyat, banyak mengundang kritikan dan demo. Betapa tidak, kekhawatiran masyarakat akan terjadinya komersialisasi di bidang pendidikan akan menjadi kenyataan. Pendidikan khususnya pendidikan tinggi akan menjadi jatah untuk orang-orang kaya saja, sedangkan orang yang tidak mampu tidak akan sanggup mengenyam dunia pendidikan tinggi. Bahkan, orang dengan kepandaian kurang pun jika memiliki uang dapat masuk ke perguruan tinggi negeri. Fakta itu terjadi ketika beberapa perguruan tinggi negeri menjadi Badan Hukum Milik Negara atau disingkat BHMN seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sumatera Utara (USU) serta Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sebagian besar menaikkan SPP bagi mahasiswa, yang dilanjutkan dengan pembukaan beberapa jalur khusus masuk dengan sumbangan yang besar.
Awalnya BHP ini memang untuk perguruan tinggi negeri, supaya dia lebih independen. Di yayasan pun kita ingin agar kedudukan universitas atau perguruan tinggi di bawah yayasan tidak lagi mengulang kondisi, bagaimana terjadi kooptasi pemerintah pada perguruan tinggi negeri atau menyebabkan kooptasi yayasan terhadap perguruan tingginya. RUU BHP ini membuat perguruan tinggi memiliki kewenangan untuk mandiri secara pedagogik dan akademik, juga mandiri terhadap menerima berbagai dukungan serta bertanggung jawab terhadap yang dilakukan secara hukum. Kelebihannya jika pendidikan berbadan hukum adalah Lembaga pendidikan yang berbadan hukum dapat melaksanakan tindakan hukum, bertanggung jawab secara hukum, membuat keputusan yang berimplikasi hukum, dan dapat dikenai sanksi hukum. Sebagai lembaga yang meluluskan peserta didik, maka ijasah yang dikeluarkannya harus memiliki kekuatan hukum. Tanpa penataan yang jelas, akan banyak masalah yang timbul berkaitan dengan hal-hal tersebut.

Sumber:
http://www.dikti.com
http://www.kompas.com
http://www.penulislepas.com

MaU tahu susunan ARTIKEL yang benar?????


Struktur Artikel Hasil Penelitian:
1. Judul
2. Nama Penulis
3. Abstrak dan Kata Kunci
Abstrak (Abstract) merupakan intisari seluruh tulisan, terdiri antara 100-150 kata. Di bawah abstrak disertakan 4-6 kata kunci (keywords). Jika isi tulisan berbahasa Indonesia, abstrak dan kata kunci ditulis dalam bahasa Inggris, demikian sebaliknya, jika isi tulisan berbahasa Inggris, abstrak dan kata kunci ditulis dalam bahasa Indonesia
4. Pendahuluan (mencakup latar belakang penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian)
5. Tinjauan/Kajian Teoritik
6. Metode Penelitian
7. Pembahasan
8. Penutup
9. Daftar Pustaka
Untuk setiap pustaka yang dirujuk dalam naskah harus muncul dalam daftar kepustakaan, demikian sebaliknya. Variasi format pengutipan harus konsisten, bisa mengikuti sistem Harvard atau Vancouver, serta turunan variasinya. Format pengutipan sistem Harvard menggunakan nama penulis dan tahun publikasi dengan urutan pemunculan berdasarkan nama penulis secara alfabetis.

Struktur Artikel Theoretical Review dan Esei Ilmiah lainnya:
1. Judul
2. Nama Penulis
3. Abstrak dan Kata Kunci (ketentuanya sama dengan sebelumnya)
4. Pendahuluan
5. Pembahasan
6. Penutup
7. Daftar Pustaka (ketentuanya sama dengan sebelumnya)

Kilas profillll…Kaprodi Pendidikan IPA?????


Kaprodi Pendidikan IPA

T a h u nggak sih,,,,,,
Salah satu dosen FMIPA ini merupakan salah satu guru besar yang ada di FMIPA. Beliau adalah Prof. Dr. Zuhdan K. Prasetyo, M. Ed, pengemban amanah dalam Program Studi Pendidikan IPA, dan di Prodi IPA, beliau diamanahi sebagai Ketua Prodi Pendidikan IPA. Bapak Kaprodi kita ini lahir di kota ini, Yogyakarta, pada tanggal 5 April 1955.
Perlu dibanggakan adalah ketika SMP hingga SMA, beliau selalu mendapatkan juara 1, selalu menjadi no.1 di antara teman-temannya, dan ketika di jenjang perguruan tinggi, beliau mengambil program studi fisika hingga beliau menjadi dosen fisika. Pada tahun 2000 hingga 2004 beliau melanjutkan S3nya di UPI Bandung dengan program studi pendidikan IPA.
Beliau merupakan orang yang sukses, kunci kesuksesannya adalah “Segala sesuatu yang dilakukan harus dengan ikhlas kepada Allah” Selama pendidikan, Beliau pernah terjun di Organisasi Intra Sekolah (OSIS) SMA, dan ketika dijenjang Perguruan tinggi beliau hanya memfokuskan pada akademik.
Pak Zuhdan memang dikenal murah senyum, walaupun beliau seorang Profesor, tapi beliau tidak pernah sombong. Ini terbukti ketika kami mewawancarainya, beliau berkali-kali menyapa murid-muridnya dan beberapa dosen, beliau tidak segan untuk melambaikan tangannya dan mengucapkan “Hai…” ke murid-muridnya terlebih dulu.
Walaupun begitu, beliau seorang yang tegas dan disiplin tinggi, beliau sangat menjunjung tinggi komitmennya sebagai pengajar, beliau seorang pendidik yang professional. Dan ketika ditanya tentang hobby, beliau menjawab dengan senyum manisnya “Dulu waktu muda saya senang sekali basket dan sepak bola, tapi sekarang saya ya cuma bisa nonton bola”, dan beliau juga mengharapkan adanya pertandingan sepakbola antara mahasiswa dengan dosen. Ayo kawan…..kawan……kita berjuang mengalahkan dosen………!!!
Pada pertengahan tahun 2007, beliau diberi kepercayaan untuk membuka Prodi baru, yaitu Prodi Pendidikan IPA. Ketika ditanya pandangan beliau tentang pendidikan IPA, beliau menuturkan prospek Pendidikan IPA ke depan sangat bagus, terkait belum adanya guru IPA yang benar-benar lahir dari Pendidikan IPA.
Beliau berpesan kepada anak-anaknya, mahasiswa prodi pendidikan IPA, “Sebagai seorang guru, harus professional dan menjunjung etika”. Demikian tutur Beliau sembari menutup perbincangan. Red. Fany T a h u nggak sih,,,,,, Salah satu dosen FMIPA ini merupakan salah satu guru besar yang ada di FMIPA. Beliau adalah Prof. Dr. Zuhdan K. Prasetyo, M. Ed, pengemban amanah dalam Program Studi Pendidikan IPA, dan di Prodi IPA, beliau diamanahi sebagai Ketua Prodi Pendidikan IPA. Bapak Kaprodi kita ini lahir di kota ini, Yogyakarta, pada tanggal 5 April 1955.
Perlu dibanggakan adalah ketika SMP hingga SMA, beliau selalu mendapatkan juara 1, selalu menjadi no.1 di antara teman-temannya, dan ketika di jenjang perguruan tinggi, beliau mengambil program studi fisika hingga beliau menjadi dosen fisika. Pada tahun 2000 hingga 2004 beliau melanjutkan S3nya di UPI Bandung dengan program studi pendidikan IPA.
Beliau merupakan orang yang sukses, kunci kesuksesannya adalah “Segala sesuatu yang dilakukan harus dengan ikhlas kepada Allah” Selama pendidikan, Beliau pernah terjun di Organisasi Intra Sekolah (OSIS) SMA, dan ketika dijenjang Perguruan tinggi beliau hanya memfokuskan pada akademik.
Pak Zuhdan memang dikenal murah senyum, walaupun beliau seorang Profesor, tapi beliau tidak pernah sombong. Ini terbukti ketika kami mewawancarainya, beliau berkali-kali menyapa murid-muridnya dan beberapa dosen, beliau tidak segan untuk melambaikan tangannya dan mengucapkan “Hai…” ke murid-muridnya terlebih dulu.
Walaupun begitu, beliau seorang yang tegas dan disiplin tinggi, beliau sangat menjunjung tinggi komitmennya sebagai pengajar, beliau seorang pendidik yang professional. Dan ketika ditanya tentang hobby, beliau menjawab dengan senyum manisnya “Dulu waktu muda saya senang sekali basket dan sepak bola, tapi sekarang saya ya cuma bisa nonton bola”, dan beliau juga mengharapkan adanya pertandingan sepakbola antara mahasiswa dengan dosen. Ayo kawan…..kawan……kita berjuang mengalahkan dosen………!!!
Pada pertengahan tahun 2007, beliau diberi kepercayaan untuk membuka Prodi baru, yaitu Prodi Pendidikan IPA. Ketika ditanya pandangan beliau tentang pendidikan IPA, beliau menuturkan prospek Pendidikan IPA ke depan sangat bagus, terkait belum adanya guru IPA yang benar-benar lahir dari Pendidikan IPA.
Beliau berpesan kepada anak-anaknya, mahasiswa prodi pendidikan IPA, “Sebagai seorang guru, harus professional dan menjunjung etika”. Demikian tutur Beliau sembari menutup perbincangan.
By..PJO

KTSP(Kurikulum tanpa sarana pembelajaran)


Benar gax siii…kurikulum di Indonesia sudah baik???
Sistem pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan,mula dari orde lama sampai skrang. Yang terbaru yakni sistem KTSP(kurikulum Tingkat satuan pendidikan) yang seblelumnya pada tahun 2004 menggunakan sistem KBK (berkurikulum Berbasis kompetensi). Dengan pergantian kurikulum tersebut timbul pertanyaan apakah nantinya kurikulum tersebut dapat berjalan efektif??? Tidak hanya para siswa yang harus mengalami kebingungan dan harus menyesuaikan diri dengan kurikulum baru tapi para pengajar pun mengalami hal yang demikian. Pada prinsipnya kurikulum yang sekarang ini menuntut siswa untuk lebih aktif dari pada guru,dengan tuntutanmenggunakan prasarana pembelajaran yang lebih baik. Tapi kara kurungnya sarana dan prasarana pembelajaran maka timbullah sebutan baru untuk kurikulum saat ini yaitu KTSP(kurikulum tanpa sarana pembelpjaran). Pemerintah seharusnya memperhatikan hal tersebut dengan lebih sungguh-sungguh. Apalagi pada musim pemilu sekarang ini maraknya janji-janji sesumbar tentang pendidikan. Kita sebagai rakyat bangsa haruslah bisa memilih dengan bijak siapa pemimpin kita selanjutnya. Tidak hanya janji yang diberikan, tetapi bukti haruslah ada. Jangan sampai kita menyesal pada akhirna. Maka untuk itu mari gunakan hak pilih kita dengan bijak, karena 1 suara menentukan masa depan bangsa.

Apakah benar mahasiswa agen perubahan yanhg baik??


Apakah benar mahasiswa adalah agen perubahan atau penerus bagi bangsanya? Seribu pertanyaan tentang mahasiswa di Indonesia kembali mencuat, karena sikap mahasiswa yang terkesan anarkis dan berpikiran pendek dalam menyelesaikan masalah. Banyak orang berpikiran bahwa mahasiswa adalah contoh tauladan bagi masyarakat, tetapi tindakan mahasiswa Indonesia di sebuah universitas di jakarta mencoreng anggappan tersebut. Pasalnya mereka sering terlibat tawuran antar mahasiswa. Padahal permasalahan pun tidak jelas apa yang menjadi alasan mereka untuk tawuran. Korban dari tawuran tersebut tidak hanya mahasiswa tapi juga terkadang masyarakat sekitar kampus atau tempat mereka tawuran.
Apa kata duNIA??? Seharusnya mahasiswa yang intelek dan perpendidikan tinggi berpikiran panjang dan kritis dalam menyelesaikan masalahnya, tidak hanya tawuran saja. Bagaimana Indonesia bisa maju kalau penerusnya berpikiran sempit begitu. Pantas saja korupsi atau KKN kian marak terjadi di Indonesia,bahkan pernah menjadi negara terkorup no 3 di dunia. Bagaimana tidak jika penerusnya dari kalangan mahasiswa suka tawuran dan berpikiran pendek serta hanya menentingkan diri mereka semdiri tanpa berpikir dampak dari perbuatannya.

kurikulum belajar di indonesia


Kurikulum 2004 (KBK)
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dikembangkan dengan tujuan memperbaiki kelemahan pada Kurikulum 1994. KBK menitikberatkan pada kompetensi yang harus dicapai siswa. Misalnya, standar kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar bahasa pada hakikatnya belajar berkomunikasi dan belajar menghargai manusia serta nilai-nilai kemanusiaannya. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan pada peningkatan kemampuan berkomunikasi dan menghargai nilai-nilai, bukan pada kemampuan menguasai ilmu kebahasaan. Akan tetapi, ilmu bahasa dipelajari untuk mendukung keterampilan berkomunikasi. Kegiatan belajar pun dikembalikan pada konsep bahwa siswa akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuainya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat, tetapi gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata untuk jangka panjang.
Atas dasar tersebut, KBK pun dianggap menjadi solusi dalam memecahkan masalah kekurangberhasilan pendidikan di Indonesia. Pola pembelajaran, diharapkan tidak lagi terpusat pada guru. Pola pembelajaran pun dikembangkan menjadi pola belajar berdasar-aktivitas. Siswa dapat bergerak aktif secara fisik ketika belajar dengan memanfaatkan indra seoptimal mungkin dan membuat seluruh tubuh serta pikiran terlibat dalam proses belajar. Dengan demikian, siswa dapat belajar dengan bergerak dan berbuat, belajar dengan berbicara dan mendengar, belajar dengan mengamati dan menggambarkan, serta belajar dengan memecahkan masalah dan berpikir. Pengalaman-pengalaman itu dapat diperoleh melalui kegiatan mengindra, mengingat, berpikir, merasa, berimajinasi, menyimpulkan, dan menguraikan sesuatu. Kegiatan tersebut dijabarkan melalui kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
KBK tidak ditetapka dalam UU atau Peraturan Pemerintah. Alasan dirubahnya kurikulum 1994 menjadi KBK karena mutu pendidikan di Indonesia yang kurang baik dan banyak siswa yang tidak menerapkan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan,Selain itu mereka dituntut untuk menghapal materi tanpa memahaminya sehingga apa yang telah di ujikan maka materi itu akan dengan mudah lupa.Oleh karena itu dengan dirubahnya kurikulum 1994 menjadi KBK diharapkan dapat menekankan kurikulum pada kompetensi yang harus dimiliki dan dikuasai siswa dalam menyelesaikan pembelajaran.